Langsung ke konten utama
TUGAS
SOFTSKILL
PEREKONOMIAN
INDONESIA
ARTIKEL
PERBANKAN
Disusun
Oleh:
Afri
Hilmi (20214410)
1EB02
UNIVERSITAS
GUNADARMA
FAKULTAS
EKONOMI
JURUSAN
AKUNTANSI
2
UTAMA PENYEBAB KEHANCURAN BANK DIMULAI KETIKA KRISIS EKONOMI
INDONESIA 1997
Terlalu
longgar peraturan dalam perbankan, terutama sejak digulirkannya Paket
Oktober 1988 (Pakto 88). Peraturan ini memungkinkan bank untuk
menetapkan langkah-langkah yang begitu mudah, sehingga dalam waktu
singkat, jumlah bank telah menjamur.
Bank
dan sektor riil semakin terintegrasi ke dalam struktur kepemilikan
seseorang atau sekelompok orang yang benar-benar dalm kondisi yang
sama. Ini tidak terlalu banyak membawa dampak negatif jika
aturan-aturan yang diberikan kondisi upheld. Adapun praktek bisnis
yang buruk telah ditutupi oleh sebuah sistem politik tertutup
otoriter dan korup. Jadi, ketika guncangan terjadi pada sendi
otomatis bangunan bisnis politik, termasuk perbankan, juga ikut
gemetar.
ANALISIS
KONDISI DI PERBANKAN NASIONAL 2009
Selama
periode di bulan Februari sampai dengan bulan Juni 2008 tingkat
pertumbuhan kredit tercatat hingga hampir 4 persen, angka ini
menunjukan bahwa turun persenan menjadi hanya sekitar 2 persen pada
periode di bulan Juli hingga sampai di bulan Desember 2008.
Memasuki
2009, pertumbuhan kredit minus 2,1 persen. Penurunan tingkat
pertumbuhan hampir pasti akan juga ikut mengerek naik jumlah kredit
bermasalah (NPL).
Penyebab
melemahnya pertumbuhan kredit seretnya likuiditas. Satu hal yang
antara lain menunjukkan pengurangan lebih dari dua kali kelebihan
likuiditas dalam perekonomian yang membuat Sertifikat Bank Indonesia
(SBI), fasilitas BI, dan fine tuning operation (FTO).
Beberapa
minggu terakhir ini, likuiditas perekonomian adalah sedikit tertolong
oleh suntikan-suntikan devisa dari negara-negara yang melakukan
kesepakatan swap billateral dengan Indonesia, antara lain China. Dana
tambahan dari 12 billion Dolar AS adalah juga dijadwalkan akan
dihasilkan jika komitmen ASEAN Plus 3 dapat terwujud. Berbagai foto
pertukaran ini akan langsung mengurangi tekanan pada likuiditas dalam
negeri melalui mekanisme uang inti. Selain itu, suntikan dari luar,
arus lalu lintas likuiditas dalam negeri juga akan dibantu oleh
banyak partai demokratis pemilu yang kini dirayakan hinggar
kebisingannya.
Masalahnya
peningkatan aliran likuiditas belum tentu diterjemahkan dalam
ekspansi kredit. Begitu juga dalam krisis global menyebabkan lebih
takutnya segmentasi pasar perbankan domestik, yang menyebabkan suku
bunga kredit komersial turun keras (tercatat dalam : Deviation BI
Rate dan Suku Bunga Kredit).
Bank
Indonesia sedang mencoba berbagai upaya terobosan untuk mengatasi
masalah ini, termasuk upaya untuk menciptakan pengumpulan dana, dan
itupun bukan tanda-tanda yang menggembirakan. Bankpun masih enggan
untuk saling meminjamkan dana, karena profil risiko dari
masing-masing yang belum sepenuhnya transparan. Solusi komprehensif
segmentasi pasar perbankan cenderung menunggu sedikit lebih lama,
sampai tercatat sahnya berlaku RUU Sistem Keuangan Network Security
yang sampai saat ini masih berada di DPR.
Dengan
berbagai masalah, tidak mengherankan bahwa laju pertumbuhan kredit
pada tahun 2009 secara kumulatif sepanjang akan melambat di kisaran
15 % (persen). Demikian pula pada dana dengan tingkat perkiraan pihak
ketiga yang hanya tercatat 11 % (persen).
Sejauh
ini, perlambatan pertumbuhan kredit dan NPL tidak serius pemburukkan
mempengaruhi sistem perbankan domestik fundamental ekonomi secara
keseluruhan. Rata-rata, bank-bank domestik masih memiliki rasio
kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio – CAR) lebih dari cukup,
dengan 17% (persen). Angka ini lebih jauh di atas tingkat minimum 8
persen. Bantal modal besar memungkinkan bank-bank domestik untuk
menyerap berbagai risiko yang mungkin timbul selama 2009. Pada awal
2009, tingkatan NPL masih relatif terkendali dalam waktu kurang dari
5% (persen), meskipun harga itu sedikit meningkat dari 4% (persen) di
akhir 2008.
Perbankan
fundamental yang baik merupakan modal yang sangat berharga untuk
berlayar pada tahun 2009. Tentu saja, pada tingkat operasi perbankan,
perlu ada lebih banyak usaha untuk meningkatkan efisiensi yang masih
dianggap cukup rendah di mana rasio masih BOPO untuk 80% (persen)
serta pengelolaan risiko masing-masing bank. Karena, pengalaman
baru-baru ini dalam kasus Indover dan Bank Century, karena runtuhnya
bank seringkali disebabkan oleh pengelolaan risiko yang berantakan
bahkan kriminal.
Dengan
secara bersamaan, perbaikan dalam skala mikro ini harus disertai
dengan upaya pada tingkat makro konsolidasi perbankan. Konsolidasi
sering dilakukan melalui merger selain mengurangi masalah-masalah
perbankan segmentasi pasar, juga akan mengurangi beban pengawasan
otoritas moneter.
Upaya
lain di tingkat makro perlu dilanjutkan dan bahkan memperkuat
pemerintahan berhatihati kebijakan (peraturan kehati-hatian),
termasuk dalam hal transaksi derivatif dan mata uang asing yang telah
diadopsi. Kebijakan BI ini adalah salah satu yang harus menyelamatkan
sistem perbankan nasional sejauh ini, sehingga perlu dilanjutkan dan
bukan hanya menggeliat.
Selain
meningkatkan manajemen risiko dan tata kelola bank, baik itu BI juga
memberikan bimbingan untuk ekspansi kredit sektoral sebagai petunjuk
operasional perbankan. Pedoman ini harus spesifik dan harus berbeda
di setiap daerah. Pada titik ini, kantor BI yang tersebar di hampir
seluruh pelosok kepulauan harus difungsionalisasikan sebagai tombang
tepi dalam memberikan sifat lokal sektoral.
Keberadaan
pada bank-bank Indonesia akan sangat dipengaruhi oleh kemampuan untuk
membaca perubahan-perubahan dalam lingkungan eksternal, baik di
tingkat nasional dan internasional.perubahan yang patut diperhatikan:
*
Ubah struktur dan karakter perekonomian nasional sebagai akibat dari
perubahan-perubahan struktural pasca krisis insentif.
*
Pelaksanaan otonomi daerah.
*
Fenomena globalisasi dan regionalisasi.
SUMBER:https://anitawulan.wordpress.com/2010/03/11/artikel-tentang-perbankan-nasional/
Komentar
Posting Komentar